Problematika Kuliah Daring ditengah
Pandemi Covid 19
Kamis, 18 Juni 2020
Oleh : Rahmita
Sejak munculnya Virus Corona sejak
awal tahun berdampak pada sektor pendidikan. Sehingga Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengeluarkan Surat Edaran Nomor:
36963/MPK.A/HK/2020 Tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja dari Rumah
dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (Covid 19).
Pembelajaran daring selama virus corona ini telah
menimbulkan problematika bagi peserta didik ataupun mahasiswa selama belajar
dan kuliah dirumah aja. Adapun problematika atau masalah yang kerap kali
dialami oleh mahasiswa yaitu :
1.
Metode Mengajar
Tidak semua tenaga pendidik aktif
dalam menggunakan teknologi. Hanya beberapa yang paham dan memiliki ide kreatif
untuk menciptakan berbagai variasi metode dalam memanfaatkan teknologi sebagai
proses pembelajaran daring. Banyaknya aplikasi pembelajaran daring yang bisa
digunakan untuk menciptakan proses perkuliahan yang menarik dan mampu dimengerti
oleh para mahasiswa, seperti zoom, classroom, watshapp, facebook, power
point bahkan youtube. Penggunaan
aplikasi tersebut dilakukan secara bergantian oleh beberapa dosen bahkan ada
yang mengkombinasikan beberapa aplikasi tersebut agar mahasiswa tidak merasa
bosan dan mudah mengerti terhadap apa yang disampaikan oleh dosennya. Namun,
ada pula dosen yang pasif menggunakan teknologi dalam proses perkuliahan
daring, sehingga setiap pertemuan metode yang digunakan itu sama, yaitu hanya
memberikan sub materi yang akan dicari dan dipelajari mahasiswa kemudian dishare ke teman-teman yang lain tanpa
adanya umpan balik antara mahasiswa dan dosen. Kerap kali terjadi kekesalan
oleh mahasiswa ketika kejelasan materi kurang dipahami dan dipertanyakan namun
tidak ada respon sama sekali. Kreatifitas seorang tenaga pendidik juga sangat
berperan pada proses pembelajaran, sehingga metode atau cara mengajar yang
diterapkan memudahkan mahasiswa dalam proses penyerapan ilmu dalam perkuliahan
berbasis daring.
2.
Biaya Kuota
Munculnya virus corona juga berdampak
pada perekonomian masyarakat. Pendapatan yang kurang juga berpengaruh terhadap
mahasiswa yang memerlukan biaya kuota agar bisa melakukan proses perkuliahan
daring. Tidak adanya subsidi dari pemerintah bahkan pihak kampus untuk menyediakan
biaya pembeli kuota mahasiswa juga merupakan salah satu masalah yang kerap
terjadi, sehingga terdapat beberapa mahasiswa yang harus alpa dan ketinggalan
proses perkuliahan karena masalah tersebut. Seharusnya ada kebijakan dari dosen
mengenai hal demikian dan sepatutnya pula diberikan biaya pembeli kuota bagi
mahasiswa yang tidak mampu oleh pihak kampus.
3.
Tugas Menumpuk
Proses perkuliahan daring ditengah pandemic
covid 19 juga berpengaruh terhadap psikologi mahasiswa. Hal ini disebabkan bukan
karena covid 19, melainkan karena hampir disetiap perkuliahan ada tugas yang
harus dikerjakan mahasiswa tepat waktu pada saat itu juga. Bukan hanya itu
saja, bayangkan dalam 1 hari ada 3 tugas mata kuliah yang harus di kerjakan
bersamaan. Dengan banyaknya tugas yang diberikan tidak jarang ada mahasiswa
yang mengeluh, stress, putus asa, bahkan acuh tak acuh hanya karena persoalan
itu. Baiknya tidak semua sub materi perkuliahan diselipkan tugas, ada kiranya
sub-sub materi tertentu dan penting yang diberikan penugasan agar mahasiswa
lebih mendalami dan memahami meteri tersebut dan bukan hanya tugas yang ia
fokuskan untuk dikerjakan.
4.
Koneksi Jaringan
Keterlambatan mengisi daftar hadir dan
mengumpulkan tugas bukan disebabkan karena tidak aktif atau belum mengerjakan
tugas, melainkan karena kurangnya koneksi jaringan yang memadai dirumah tempat
tinggal mahasiswa. Hal ini merupakan masalah yang kerap kali terjadi, sehingga
mahasiswa harus rela keluar rumah untuk mencari jaringan demi mengikuti proses
perkuliahan.
5.
Jadwal Perkuliahan
Tidak kebanyakan dosen mengubah jadwal
kuliah atau bahkan mengambil waktu libur mahasiswa untuk melakukan proses
perkuliahan. Beberapa dosen tidak melihat jadwalnya sebelum melakukan
perkuliahan daring sehingga membuat mahasiswa tetap melakukan proses
perkuliahan pada saat libur. Hal ini menjadi masalah besar bagi mahasiswa
dikarenakan tidak ada kesiapan untuk melakukan perkuliahan, bahkan ada
mahasiswa yang tidak aktif pada saat itu karena beranggapan bahwa tidak ada
proses perkuliahan sehingga berakibat terhadap kehadirannya. Mahasiswa sering
mengingatkan jadwal perkuliahan ketika ada dosen yang melakukan proses
perkuliahan diwaktu libur. Beberapa dosen yang merasa dirinya salah meminta
maaf terhadap kekeliruan yang terjadi, namun ada pula dosen yang tetap
melakukan perkuliahan demi mengganti jadwal yang sebelumnya tidak sempat
dilakukan. Sebaiknya dosen yang ingin mengisi waktu libur dengan perkuliahan
mengkonfirmasi lebih awal agar para mahasiswa selalu siap untuk melakukan proses
perkuliahan daring.
6.
Ketepatan Waktu Mengajar
Ketepatan waktu juga merupakan sebuah
problematika yang kadang terjadi. Hal ini dikarenakan dosen kerap kali lupa
dengan jadwalnya sendiri dikarenakan banyaknya pekerjaan atau urusan yang harus
ia lakukan. Sehingga perkuliahan yang seharusnya dilakukan disiang hari harus
dilakukan dimalam hari. Hal ini bukanlah sebuah permasalahan yang besar karena
ini hanya terjadi satu atau dua kali saja, dan sebelumnya sudah ada konfirmasi
dan persetujuan dari para mahasiswa mengenai pemindahan waktu perkuliahan
tersebut.
Setiap permasalahan yang terjadi
ditengah pandemic covid 19 tentu saja ada sisi baik dan buruknya, begitupun
terhadap mahasiswa ada sisi positif dan negatif yang dirasakan. Alangkah tidak
bijaknya seseorang ketika dalam problematika yang terjadi dikehidupannya ia
menyalahkan orang lain. Problematika yang terjadi diatas merupakan bahan
evaluasi bagi para tenaga pendidik dan calon tenaga pendidik agar mampu
menguasai bebagai kompetensi dalam pembelajaran, bukan hanya pembelajaran tatap
muka namun juga perlu menguasai pembelajaran berbasis daring sehingga tidak
terjadi kesalahan dan masalah yang sama.
*sekian*

Good artikelnya
BalasHapusAlhamdulillah terima kasih.
HapusDilihat secara tekstual,, pada dasarnya datas apa yang saudari tuangkan. Bahkan telah memenuhi kaidah2 penalaran&pemikiran multi interpretasi meruang aktualis. Namun dan tentunya perlu sebuah bentuk improvisasi; penyampaian gaya apa, bagaimana & kenapa. Disamping itu juga apresiasi; wujud, tempat (sikon) dan konteks (kepada siapa bahasa tersebut disampaikan). Jika hal tersebut diterapkan dan ditetapkan InsyaAllah akan menjadi nilai-nilai sebuah bahasa bermatajiwa : bermatahati. Salam ta’lim dariku&sukses selalu
BalasHapusaamiin..Makasih sarannya kak.. insya allah ditulisan selanjutnya diterapkan..
HapusKeren nih artikelnya
BalasHapusAlhamdulillah terrima kasih kak..
Hapus