Selasa, 26 Januari 2021

Sosial Movement Pikom Pendidikan Bahasa Indonesia IMM UMB

Kejadian gempa di Sulawesi Barat mendapat simpati dari seluruh kalangan masyarakat, ormas dan kampus, termasuk Universitas Muhammadiyah Bulukumba. "UMB Bergerak" begitulah tagline untuk agenda ini. Namun dalam hal ini, Pimpinan Komisariat Pendidikan Bahasa Indonesia Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki inisiatif untuk melakukan aksi penggalangan dengan mengunjungi setiap rumah yang ada di desa. Aksi penggalangan dana ini di lakukan di Desa Karama, Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba pada Selasa 26 Januari 2020. Gerakan sosial yang dilakukan oleh Pikom Pend. Bahasa Indonesia ini didukung penuh oleh Bapak Kepala Desa. Bahkan beliau sendiri yang langsung pertama kali memberikan donasi kepada kami."Tetap semangat dalam melakukan aksi ini, kalau perlu telusuri setiap dusun yang ada karena rata-rata orang disini itu pengusaha" ujar Bapak Jusman. Aksi ini dilakukan dengan mengujungi satu per satu rumah warga bahkan sampai tembus ke kantor desa. Kegiatan ini mendapat banyak sumbangsih dari masyarakat baik itu berupa uang tunai maupun beras. Kegiatan ini tidak berhenti sampai disini saja, melainkan kami akan melanjutkan hingga ke beberapa desa yang ada di Kabupaten Bulukumba. Nantinya donasi yang kami kumpulkan akan kami salurkan ke posko induk kampus yang terletak di kampus 1 UMB sebagai bentuk sumbangsih Pimpinan Komisariat Pendidikan Bahasa Indonesia terhadap kampus dalam agenda UMB Bergerak. RA/ra

Kamis, 18 Juni 2020

Artikel : Problematika Kuliah Daring ditengah Pandemi Covid 19

Problematika Kuliah Daring ditengah Pandemi Covid 19

Kamis, 18 Juni 2020

Oleh : Rahmita

            Sejak munculnya Virus Corona sejak awal tahun berdampak pada sektor pendidikan. Sehingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 36963/MPK.A/HK/2020 Tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (Covid 19).

            Pembelajaran daring selama virus corona ini telah menimbulkan problematika bagi peserta didik ataupun mahasiswa selama belajar dan kuliah dirumah aja. Adapun problematika atau masalah yang kerap kali dialami oleh mahasiswa yaitu :

1.    Metode Mengajar

          Tidak semua tenaga pendidik aktif dalam menggunakan teknologi. Hanya beberapa yang paham dan memiliki ide kreatif untuk menciptakan berbagai variasi metode dalam memanfaatkan teknologi sebagai proses pembelajaran daring. Banyaknya aplikasi pembelajaran daring yang bisa digunakan untuk menciptakan proses perkuliahan yang menarik dan mampu dimengerti oleh para mahasiswa, seperti zoom, classroom, watshapp, facebook, power point bahkan youtube. Penggunaan aplikasi tersebut dilakukan secara bergantian oleh beberapa dosen bahkan ada yang mengkombinasikan beberapa aplikasi tersebut agar mahasiswa tidak merasa bosan dan mudah mengerti terhadap apa yang disampaikan oleh dosennya. Namun, ada pula dosen yang pasif menggunakan teknologi dalam proses perkuliahan daring, sehingga setiap pertemuan metode yang digunakan itu sama, yaitu hanya memberikan sub materi yang akan dicari dan dipelajari mahasiswa kemudian dishare ke teman-teman yang lain tanpa adanya umpan balik antara mahasiswa dan dosen. Kerap kali terjadi kekesalan oleh mahasiswa ketika kejelasan materi kurang dipahami dan dipertanyakan namun tidak ada respon sama sekali. Kreatifitas seorang tenaga pendidik juga sangat berperan pada proses pembelajaran, sehingga metode atau cara mengajar yang diterapkan memudahkan mahasiswa dalam proses penyerapan ilmu dalam perkuliahan berbasis daring.

2.    Biaya Kuota

          Munculnya virus corona juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Pendapatan yang kurang juga berpengaruh terhadap mahasiswa yang memerlukan biaya kuota agar bisa melakukan proses perkuliahan daring. Tidak adanya subsidi dari pemerintah bahkan pihak kampus untuk menyediakan biaya pembeli kuota mahasiswa juga merupakan salah satu masalah yang kerap terjadi, sehingga terdapat beberapa mahasiswa yang harus alpa dan ketinggalan proses perkuliahan karena masalah tersebut. Seharusnya ada kebijakan dari dosen mengenai hal demikian dan sepatutnya pula diberikan biaya pembeli kuota bagi mahasiswa yang tidak mampu oleh pihak kampus.

3.    Tugas Menumpuk

          Proses perkuliahan daring ditengah pandemic covid 19 juga berpengaruh terhadap psikologi mahasiswa. Hal ini disebabkan bukan karena covid 19, melainkan karena hampir disetiap perkuliahan ada tugas yang harus dikerjakan mahasiswa tepat waktu pada saat itu juga. Bukan hanya itu saja, bayangkan dalam 1 hari ada 3 tugas mata kuliah yang harus di kerjakan bersamaan. Dengan banyaknya tugas yang diberikan tidak jarang ada mahasiswa yang mengeluh, stress, putus asa, bahkan acuh tak acuh hanya karena persoalan itu. Baiknya tidak semua sub materi perkuliahan diselipkan tugas, ada kiranya sub-sub materi tertentu dan penting yang diberikan penugasan agar mahasiswa lebih mendalami dan memahami meteri tersebut dan bukan hanya tugas yang ia fokuskan untuk dikerjakan.

4.    Koneksi Jaringan

          Keterlambatan mengisi daftar hadir dan mengumpulkan tugas bukan disebabkan karena tidak aktif atau belum mengerjakan tugas, melainkan karena kurangnya koneksi jaringan yang memadai dirumah tempat tinggal mahasiswa. Hal ini merupakan masalah yang kerap kali terjadi, sehingga mahasiswa harus rela keluar rumah untuk mencari jaringan demi mengikuti proses perkuliahan.

5.    Jadwal Perkuliahan

          Tidak kebanyakan dosen mengubah jadwal kuliah atau bahkan mengambil waktu libur mahasiswa untuk melakukan proses perkuliahan. Beberapa dosen tidak melihat jadwalnya sebelum melakukan perkuliahan daring sehingga membuat mahasiswa tetap melakukan proses perkuliahan pada saat libur. Hal ini menjadi masalah besar bagi mahasiswa dikarenakan tidak ada kesiapan untuk melakukan perkuliahan, bahkan ada mahasiswa yang tidak aktif pada saat itu karena beranggapan bahwa tidak ada proses perkuliahan sehingga berakibat terhadap kehadirannya. Mahasiswa sering mengingatkan jadwal perkuliahan ketika ada dosen yang melakukan proses perkuliahan diwaktu libur. Beberapa dosen yang merasa dirinya salah meminta maaf terhadap kekeliruan yang terjadi, namun ada pula dosen yang tetap melakukan perkuliahan demi mengganti jadwal yang sebelumnya tidak sempat dilakukan. Sebaiknya dosen yang ingin mengisi waktu libur dengan perkuliahan mengkonfirmasi lebih awal agar para mahasiswa selalu siap untuk melakukan proses perkuliahan daring.

6.    Ketepatan Waktu Mengajar

          Ketepatan waktu juga merupakan sebuah problematika yang kadang terjadi. Hal ini dikarenakan dosen kerap kali lupa dengan jadwalnya sendiri dikarenakan banyaknya pekerjaan atau urusan yang harus ia lakukan. Sehingga perkuliahan yang seharusnya dilakukan disiang hari harus dilakukan dimalam hari. Hal ini bukanlah sebuah permasalahan yang besar karena ini hanya terjadi satu atau dua kali saja, dan sebelumnya sudah ada konfirmasi dan persetujuan dari para mahasiswa mengenai pemindahan waktu perkuliahan tersebut.

            Setiap permasalahan yang terjadi ditengah pandemic covid 19 tentu saja ada sisi baik dan buruknya, begitupun terhadap mahasiswa ada sisi positif dan negatif yang dirasakan. Alangkah tidak bijaknya seseorang ketika dalam problematika yang terjadi dikehidupannya ia menyalahkan orang lain. Problematika yang terjadi diatas merupakan bahan evaluasi bagi para tenaga pendidik dan calon tenaga pendidik agar mampu menguasai bebagai kompetensi dalam pembelajaran, bukan hanya pembelajaran tatap muka namun juga perlu menguasai pembelajaran berbasis daring sehingga tidak terjadi kesalahan dan masalah yang sama.

*sekian*


Senin, 13 April 2020

Esai: Peran Intelektual IMMawati dalam Menjawab Anomali Keperempuanan


Peran Intelektual IMMawati dalam Menjawab Anomali Keperempuanan
Karya:Camiti

Ketika berbicara tentang “Peran Intelektual Immawati Dalam Menjawab Anomali Keperempuanan” kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu intelektual, IMMawati dan anomali itu sendiri. Pengertian Intelektual dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, mempunyi kecerdasan tinggi. Menurut Coser (1965),  intelektual adalah orang-orang berilmu yang tidak pernah merasa puas menerima kenyataan sebagaimana adanya. Mereka selalu berpikir soal alternatif terbaik dari segala hal yang oleh masyarakat sudah dianggap baik. Ini dipertegas oleh Shils (1972) yang memandang kaum intelektual selalu mencari kebenaran yang batasannya tidak berujung. IMMawati yaitu terdiri dari 2 kata yaitu IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan Wati (Wanita/perempuan)  putri muhammadiyah. Dalam situasi sekarang ini kerap terjadi anomali yang sering dijumpai di kalangan masyarakat. Anomali itu sendiri dalam KBBI merupakan ketidaknormalan, penyimpangan atau kelainan.
Untuk mewujudkan bangsa yang berkepribadian mulia, maka para intelektual perempuan mengemban amanah untuk turut serta menyelesaikan problematika masyarakat atau umat, baik dalam posisinya di sektor domestik maupun dalam posisinya di sektor publik. Dalam sektor domestik, intelektual perempuan memiliki kewajiban sebagai seorang ibu yang mengandung dan mendidik anak. Sedangkan dalam sektor publik, seorang intelektual perempuan juga memiliki kewajiban yang tidak mungkin dilakukan di dalam rumah, seperti menuntut ilmu dan dakwah. Juga kegiatan-kegiatan lainnya dalam sektor publik yang memberikan para intelektual perempuan peran penting dalam masyarakat, seperti aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan eksis di dalam perdagangan atau mencari nafkah. Namun, para intelektual perempuan yang seharusnya mengemban amanah menyelesaikan problematika masyarakat atau umat, mulai dibelokkan dari tujuan mulia ini dengan menggiring aktivitasnya untuk kepentingan yang sifatnya personal atau golongan tertentu, yang ujung-ujungnya untuk kemakmuran pribadi. Dampak semua ini adalah sebuah ironi bahwa lahirnya para intelektual perempuan ternyata justru meningkatkan kuantitas dan juga kualitas problematika umat. A. Potret Buram Generasi Saat Ini Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia memiliki generasi muda dengan keadaan yang memprihatinkan. Selain terbelit dengan masalah kemiskinan dan putus sekolah, banyak yang terjerat narkoba, perilaku seks bebas hingga terjangkit HIV/AIDS , Prostitusi, LGBT (Lesbian,Gay, Biseksual dan Transgender) ataupun terlibat dalam kegiatan kriminal lainnya. Padahal sebagian besar generasi muda Indonesia yang bermasalah ini adalah kalangan terpelajar yang telah menempuh pendidikan sedikitnya sampai sekolah menengah.
Anomali saat ini,  kerap kali terjadi di kalangan masyarakat terkhusus Kab. Bulukumba yaitu Prostitusi dan LGBT. Prostitusi merupakan bentuk penyimpangan seks dengan pola-pola organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi, dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu tanpa kendali dengan banyak orang (Promiskuitas), disertai eksploitasi dan komersialisasi seks yang impersonal tanpa afeksi.  Penyimpangan ini pernah terjadi di kawasan wisata Tanjung Bira Kab. Bulukumba. Dibawah ini adalah motif yang menyebabkan sehingga seseorang melacurkan diri (Reno Bachtiar dan Edy Purnomo 2007) antara lain yaitu faktor ekonomi, faktor kemalasan, faktor pendidikan, niat lahir batin, faktor persaingan, faktor sakit hati, dan tuntunan keluarga.Masalah-masalah yang timbul dari  adanya tempat prostitusi atau PSK (Pekerja Seks Komersial) adalah Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Gonorrhoe, HIV/AIDS, siphilis, Klamidia; Timbul kehamilan yang pada umumnya tidak diinginkan; Timbul Kekerasan; dan Mengganggu ketenangan lingkungan tempat tinggal.Namun, PSK yang ada di Bira berbeda halnya dengan PSK yang ada di Makassar, PSK yang ada di Bira umumnya melayani tamu dengan minuman mereka tidak serta merta dipajang didepan kemudian pelanggan datang dan memilih perempuan mana yang akan ditemani untuk berkencan. Dan PSK disana tidak ada yang berasal dari bira sendiri melainkan didatangkan dari luar.
Penyimpangan mengenai LGBT sekarang ini marak dibicarakan masyarakat termasuk beberapa negara sekarang sudah melegalkan LGBT dan sekarang banyak sekali aktivis yang ingin melegalkan juga LGBT di indonesia ini namun masih banyak orang yang tidak setuju, dan kalau kita lihat dari pandangan Agama memang praktek ini memang sangatlah bertentangan dengan fitrah manusia itu sendiri, dan dari adat dan juga norma-norma yang ada di indonesia juga masalah ini sangatlah bertentangan dengan apa yang sudah berlaku turun-temurun sejak zaman nenek moyang kita. Namun hal ini masih saja terjadi, salah satu contohnya yaitu yang pernah viral di Kabupaten Bulukumba lebih tepatnya di Dusun Erelebu, Kelurahan Ekatiro, Kecamatan Bontotiro, yang menikah dengan pasangan mempelai sama-sama berkelamin perempuan.  Pernikahan antara Rahmat Yani alias Rahmayani (28) dengan kekasihnya Safira Nurul Husna (20) terjadi pada minggu 17 September 2017. Padahal sangatlah jelas kalau Hukum LGBT didalam agama islam ini sangatlah dilarang dan juga haram, bagaimana jadinya kalau semua orang menyukai sesama jenis pastinya sudah sangat menyimpang dari fitrah manusia itu sendiri manusia akan musnah karena manusia tidak mau lagi untuk melestarikan keturuannya.
Intelektual perempuan terus melakukan pembinaan di tengah-tengah umat sehingga muncul orang-orang yang berkepribadian Islam. Umat dibina perilakunya dengan ilmu yang dimilikinya, dipraktikkan dan selalu dikaitkan dengan akidah dan syariah. Peran ini terbagai dua, yakni: Pertama: peran membina generasi dengan staqofah Islam dalam rangka membentuk dan menguatkan kepribadian Islam pada generasi. Bagi kalangan intelektual perempuan hari ini, bisa diaktualisasikan dengan menyampaikan Islam kepada mahasiswa dan generasi muda yang ia bina. Kedua: Peran mencerdaskan generasi dengan bidang ilmu tertentu yang bermanfaat dan mengajarkannya adalah sebuah keutamaan dalam Islam, selama ilmu tidak bertentangan. Lihat Febrianti Abassuni dkk, op.cit. h. 288-289 dengan aqidah Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Wahid bin Zaid, “Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya, maka Allah akan membuka baginya ilmu yang belum diketahui sebelumnya.” G. Peran Intelektual Perempuan dalam Mengemban Dakwah kepada Islam Intelektual perempuan, apapun bidang disiplin ilmunya, tidak boleh melalaikan peran utamanya sebagai seorang dai’/dai’ayah yang melakukan perbaikan dan amar makruf nahi munkar di tengah masyarakat. Bahkan peran sebagai daiyah ini harus selalu melekat pada jati diri intelektual muslim karena merupakan kewajiban yang telah di gariskan oleh Allah SWT. kepada seluruh hambah-hambah-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Ibadah sebagai misi penciptaan manusia itulah fokus dari tatanan masyarakat Islam. Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Dzariyyat:56:10 ”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” Aktivitas amar makruf nahi munkar ini harus dilakukuan terutama kepada rekan sejawat intelektual, mengingat lingkungan pendidikan hari ini masih diwarnai oleh ilmu-ilmu dan kultur sekuler. Intelektual perempuan yang telah memperoleh kesadaranya dengan baik wajib menjadi dai’yah di komunitasnya. Dari paradigma ini bisa dipahami bahwa hakikat misi membebaskan generasi adalah dakwah atau amar makruf nahi munkar. Mengemban dakwah bukanlah sekedar satu sisi saja dengan satu aturan syariah untuknya, tapi merupakan kelompok besar tindakan.
*Selesai*
Rabu, 23 Mei 2018

Analisis Perbedaan Berbahasa Pedagang di Pasar


v Analisis Perbedaan Berbahasa Pedagang Pasar
         Pada tugas final ini saya telah melakukan observasi dengan terjung langsung ke Pasar Tradisional Bantaeng dan menganalisis bahasa pedagang yang ada dipasar tersebut. Adapun bahasa pedagang yang saya analisis yaitu bahasa pedagang buah dan pedagang ikan.
 A. Analisis Pedagang Buah
Penelitian ini saya lakukan di Pasar Tradisional Bantaeng yang menjadi pusat perbelanjaan masyarakat Bantaeng itu sendiri. Adapun bahasa yang kerap kali di lontarkan oleh para pedagang yang ada di Bantaeng khususnya pada pedagang buah-buahan tentu saja berbeda satu sama lain, tergantung siapa yang membelinya.
1. Berdasarkan asal daerah atau wilayahnya
Pedagang: Buah-buahanna ibu. Lemonna, salakna tanning ngase tangania kacci-kaccina. Ki cobami loro Ibu.
                   (Buahnya ibu. Jeruk, salak semuanya manis tidak ada yang asam. Silahkan di cicipi terlebih dahulu)
Pembeli 1 :  Tassikura mi injo ?
                   (Berapa harganya itu?)
Pembeli 2  : Berapa 1 liter ?
Pedagang : Sampulo sa’buji silitere.
                   (Hanya sepuluh ribu satu liter)
Pembeli  1 : Kisarema siliterek salak na lemo.
                   (Bungkuskan saya satu liter salak dan jeruk)
Pembeli 2 : Satu liter Jeruk.
Dari contoh percakapan diatas, cara berbahasa pedagang buah diatas ia menawarkan dan menarik pembeli dengan cara memberi kesempatan pembeli untuk mencicipi dagangannya tersebut. Jika di analisis dari cara berbahasa pembeli, pembeli 1 berasal dari daerah perkampungan yang mayoritasnya menggunakan bahasa konjo sedangkan pembeli 2 berasal dari daerah perkotaan namun mengerti bahasa yang di ucapkan oleh pedagang.
2. Berdasarkan Jenis Kelamin
       Pembeli 1 : Bu, berapa semangkata 1 buah ?
       Pedagang : Tujuh ribu ibu.
       Pembeli 2 : Salakta mo nakke.
                          (saya salak saja)
       Pedagang : Sikura litere Pak ?
                          (Berapa liter Pak ?)
       Dari Percakapan diatas, berdasarkan jenis kelamin dimana pedagang yang saya amati melayani 2 pembeli sekaligus diamana pembeli 1 mereupakan perempuan sedangkan pembeli 2 merupakan seorang laki-laki. Perbedaan tutur bahasa yang nampak dari percakapan tersebut terletak pada sapaan yang di lontarkan oleh pedagang kepada para pembeli yaitu pada sapaan bu dan pak.
 B. Analisis Pedagang Ikan
              Penelitian yang kedua juga saya lakukan di Pasar Tradisional Bantaeng. Ketika berada dikumpulan para penjual ikan para penjual berlomba lomba menawarkan ikannya kepada saya.
              Pedagang 1 : Layangna-layangna ibu, sampulo lima sa’bu sigompo.
                                    ( Layangnya ibu, lima belas ribu satu segumpal)
              Pedagang 2 : Juku layangna ibu, anu beru inja.
                                    (Ikan layangnya ibu, masih segar)
              Pedagang 3 : Juku layangna bu, ki allemi sigompo tambanna tallung kayu.
                                    (Ikan layangnya bu, ambil satu gumpalan dapat tambahan tiga ekor                                       lagi)
              Berdasarkan contoh diatas, jelas terlihat perbedaan bahasa yang di lontarkan pedagang ikan yang satu dengan pedagang ikan yang lainnya. Pada pedagan 1, ia menawarkan ikannya berdasarkan harganya. Pada pedagang 2, ia menawarkan ikannya berdasarkan kualitas kesegarannya. Sedangakan pada pedagang 3, ia menawarkan ikannya berdasarkan bonus atau tambahan yang akan di berikan kepada pembeli.
              Dari hasil analisis yang telah saya lakukan dari kedua pedagang tersebut, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa bahasa yang di pakai oleh para pedagang dan orang-orang yang terlibat dalam aktivitas pasar yaitu menggunakan bahasa daerah konjo. Adapun cara para pedagang dalam menawarkan barang jualannya dengan berbagai bentuk, ada yang menawarkan berdasarkan rasa, kualitas dan jumlahnya dengan tujuan mempengaruhi para pembeli agar tertarik dengan barang dagangan yag ditawarkan.
*Selesai*
Ahad, 14 Juli 2019

Kamis, 12 Maret 2020

Review Buku tulisan Joko Widiyanto, S.Pd.,M.Pd EVALUASI PEMBELAJARAN (Sesuai dengan Kurikulum 2013) Konsep, Prinsip dan Prosedur


Nama: Rahmita
NIM  : 2017310230
Prodi : Pendidikan Bahasa Indonesia

A. IDENTITAS BUKU
Judul Buku  : EVALUASI PEMBELAJARAN (Sesuai dengan Kurikulum 2013) Konsep,                        Prinsip dan Prosedur
Penulis          : Joko Widiyanto, S.Pd.,M.Pd
Penerbit        : UNIPMA PRESS
Editor           : Asri Musandi W,S.Pd.,M.Pd
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, November 2018
ISBN             : 978-602-0725-10-9
B. PENDAHULUAN
       Buku yang ditulis oleh Joko Widiyanto, S.Pd.,M.Pdmerupakan buku cetakan pertama yang diterbitkan pada bulan November tahun 2018. Buku ini merupakan buku pembelajaran yang dijadikan sebagai referensi bahan belajar mengajar yang berkaitan dengan Evaluasi Pembelajaran.
       Buku ini berusaha untuk memberikan gambaran dan ilmu pengetahuan kepada para mahasiswa yang merupakan calon pendidik dalam hal Evaluasi Pembelajaran mengenai konsep, prinsip dan prosedur pembelajaran yang sesuai ddengan kurikulum 2013.
       Buku yang merupakan cetakan pertama ini terdiri dari 11 Bab, namun yang butuh pendalaman pemahaman para pembaca (mahasiswa) yaitu pada Bab 1, 2 dan 3 yang dimana pada Bab 1 berisi pembahasan mengenai Konsep Dasar Evaluasi Pembelajaran, Bab 2 berisi pembahasan mengenai Standar Penilaian Pendidikan dan terakhir pada Bab 3 mengenai Sistem Penilaian dalam Kurikulum 2013. Semoga apa yang disampaikan pada buku yang ditulis oleh Joko Widiyanto, S.Pd.,M.Pd dapat bermanfaat bagi pembaca mengenai apa yang ditulisnya.
C. RINGKASAN ISI BUKU
a.    Bab I Konsep Dasar Evaluasi Pembelajaran
                        Pada Bab ini membahas mengenai pengukuran, penilaian, evaluasi, jenis-jenis evaluasi pembelajaran, fungsi evaluasi pembelajaran dan prinsip-prinsip umum evaluasi pembelajaran.
          Evaluasi haruslah di dahului dengan suatu penilaian (assessment), sedangkan penilaian haruslah di dahului oleh pengukuran, sedangkan pengukuran diartikan sebagai suatu kegitan yang membandingkan hasil dari pengalaman dengan kriteria, penilaian merupakan suatu kegiatan menafsirkan dan mendeskripsikan hasil dari suatu pengukuran, sedangkan evaluasi merupakan penetapan dari nilai atau implikasi perilaku. Pembelajaran dan pengajaran sangatlah berbeda. Kata “pengajaran” lebih bersifat formal dan hanya ada di dalam konteks guru dengan peserta didik di kelas atau di sekolah, sedangkan kata “pembelajaran” tidak hanya ada dalam konteks guru dengan peserta didik di kelas secara formal, akan tetapi juga meliputi kegiatan-kegiatan belajar peserta didik diluar kelas yang mungkin saja tidak dihadiri oleh guru secara fisik.
          Pengukuran pembelajaran adalah suatu pekerjaan professional guru, instruktur atau dosen. Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seseorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu. Pada dasarnya pengukuran dilakukan untuk menguji sesuatu serta memberikan nilai. Penilaian berarti menilai sesuatu, sedangkan menilai itu mengandung arti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang pada ukuran baik dan buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh dan lain sebagainyaPenilaian dilakukan setelah peserta didik menjawab soal-soal tes maupun non tes, kemudian ditafsirkan dalam bentuk nilai.
          Evaluasi pada hakikatnya merupakan suatu proses membuat keputusan tentang nilai suatu objek. Keputusan penilaian (value judgement) tidak hanya didasarkan kepada hasil pengukuran (quantitative description), dapat pula didasarkan kepada hasil pengamatan (qualitative description). Yang didasarkan kepada hasil pengukuran (measurement) dan bukan didasarkan kepada hasil pengukuran (non-measurement) pada akhirnya menghasilkan keputusan nilai tentang suatu objek yang dinilai. Jenis-jenis evaluasi pembelajaran ada beberapa, ada jenis-jenis yang berdasarkan tujuannya, berdasarkan sasarannya, berdasarkan lingkup kegiatannya, dan berdasarkan objek dan subjeknya.
          Fungsi evaluasi pembelajaran Evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses yang memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu (1) mengukur kemajuan, (2) menunjang penyusunan rencana, dan (3) memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali (Sudijono, 2011). Fungsi evaluasi pembelajaran ada yang fungsi evaluasinya secara umum, fungsi evaluasi bagi pendidik serta fungsi evaluasi secara administratif. Prinsip-prinsip umum evaluasi pembelajaran pada umumnya ada enam, yaitu komprehensif, mengacu pada tujuan, objektif, kooperatif, kontinu dan praktis. Dari sekian banyak prinsip-prinsip evaluasi, ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi, atau adanya hubungan erat antara tiga komponen yaitu :
1. Tujuan pembelajaran
2. Kegiatan pembelajaran atau KBM, dan
3. Evaluasi
b.    Bab II Standar Penilaian Pendidikan
          Terkait mengenai Standar Penilaian Pendidikan diatur pada ketentuan umum Bab I pasal 1 Permendikbud Nomor 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Prinsip penilaian hasil belajar haruslah sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria dan akuntabel.
Pada Prosedur Penilaian, penilaian dilakukan berdasarkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan, prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar oleh pendidik, serta prosedur penilaian hasil belajar oleh pemerintah.
          Instrumen penilaian yang digunakan oleh pendidik dalam bentuk penilaian berupa tes, pengamatan, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk penilaian akhir dan/atau ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas empirik. Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah dalam bentuk UN memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, bahasa, dan memiliki bukti validitas empirik serta menghasilkan skor yang dapat diperbandingkan antarsekolah, antar daerah, dan antar tahun.
c.    Bab III Sistem Penilaian Dalam Kurikulum 2013
          Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 angka 1 menyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Selanjutnya, Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional“ berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
          Tiap kurikulum memiliki paradigma dan karakteristik masing-masing. Ini tentu erat kaitannya dengan kondisi dan situasi yang diperkiran beberapa tahun berikutnya, termasuk di dalamnya cara dan sistem penilain yang dilakukan. Sebagaimana yang diuraikan di atas bahwa penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah. Pendekatan Penilaian yang digunakan adalah Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan Penilaian Acuan Kriteria (PAK).
          Adapun ruang lingkup penilaian pada kurikulum 2013 ialah :
KI-1: kompetensi inti sikap spiritual
KI-2: kompetensi inti sikap sosial
KI-3: kompetensi inti pengetahuan
KI-4: kompetensi inti keterampilan

D. ISI REVIEW
       Berdasarkan hasil pembahasan materi yang ditulis oleh Joko Widiyanto, S.Pd.,M.Pd yang berisikan mengenai Evaluasi pembelajaran yang berisikan konsep, prinsip dan prosedur pembelajaran baik itu menegenai pengukuran maupun penilaian yang ada pada kurikulum 2013.
       Pereview setuju terhadap apa yang dituliskan oleh Joko Widiyanto yang dimana bahwa pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan kurikulum 2013 sangat berpengaruh pada peserta didik kelak karena akan mengukur kemajuan peserta didik, sebab terdapat beberapa aspek penilaian yang utamanya di ukur dari sikap spiritual, sikap sosial,  pengetahuan barulah yang terakhir yaitu keterampilan dari peserta didik.
       Selanjutnya, selain dari aspek tersebut, pada kurikulum 2013 pendidik mengevaluasi pembelajaran peserta didik berdasarkan tupoksinya masing-masing yaitu berdasarkan tujuannya, sasarannya dan yang lainnya.
       Buku ini sangat bermanfaat bagi tenaga pendidik dan tentunya bagi calon tenaga pendidik karena seluruh elemen pembelajaran yang berbasis kurikulum 2013 sudah lengkap dalam buku ini untuk diterapkandi sekolah yang mamakai kurikulum 2013.
E. Penutup
       Buku ini merupakan teori dari pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 dan tenaga pendidik sisa menerapkan hal-hal yang telah di tuliskan oleh Joko Widiyanto, S.Pd.,M.Pd di instansi atau sekolah masing-masing. Dan tentunya bukan hanya pendidik saja yang paham akan tulisan ini melainkan peserta didik juga sebaiknya memahami dan mengimplementasikannya agar sasaran yang semestinya dicapai itu terlaksana dengan baik.

Selasa, 25 Februari 2020

Psikolinguistik


v  Analisis kasus mengenai dua bahasa yang masing-masing individu memiliki kejiwaan yang berbeda.
            Ada banyak tipe orang di dunia ini, ada yang pendiam atau penyendiri dan ada yang cerewet atau terkenal bawel. Tentu saja terdapat pebedaan dalam berbahasa atau berbicara antara orang pendiam dan orang yang cerewet. Menurut analisis saya adapun perbedaannya yaitu :
1)      Orang yang pendiam cenderung memakai bahasa yang singkat dan tidak bertele-tele dibandingkan dengan orang yang cerewet atau banyak bicara. Orang yang cerewet biasanya dalam berbahasa sulit dipahami oleh pendengar apa yang dikatakannya akibat lancarnya ia berbicara dan tergesa-gesa dalam mengatakan sesuatu. Contohnya “saya mau ke pasar” ketika di ucapkan dengan lancar terkadang orang lain mendengarnya yaitu “saya mau ke pacar”. Ini karena akibat huruf s yang tidak terlalu jelas pengucapannya.
2)      Orang yang pendiam dalam berbahasa atau berbicara sesuai dengan kadarnya/seperlunya  saja karena ada rasa ketakutan untuk salah dalam bertutur kata sedangkan orang yang cerewet terkadang mengulang-ulang apa yang dikatakannya hingga beberapa kali.
3)      Dalam pengungkapan bahasa antara orang yang pendiam dengan orang yang cerewet, orang yang pediam ketika saat berbicara atau sedang berinteraksi lebih tenang dibandingkan orang yang cerewet yang tergesa-gesa dalam dalam berbicara dan terkesan sulit untuk diam.
4)      Orang yang pendiam  lebih sulit dalam bersosialisasi dibandingkan dengan orang yang cerewet. Orang yang cerewet lebih mudah dalam melakukan interaksi dengan orang-orang disekitarnya dibandingkan dengan orang yang terkenal pendiam.

Karya : Rahmita
NIM   : 2017310230
Prodi  : Pend. Bahasa Indonesia

Cerpen Pendidikan

Inginku Buku Tulis, Bukan Buku Nikah
Karya : Camiti
Minggu, 14 Juli 2019

            Naya seorang gadis cantik berumur 16 tahun yang tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah perkampungan dekat kota.Ia memiliki seorang kakak yang bernama Nayla yang kini berumur 21 tahun dan sudah bersuami. Mereka hidup di lingkungan yang mayoritas masyarakatnya kurang berpendidikan dan berpenghasilan rendah. Bahkan kedua orang tuanya pun putus sekolah karena persoalan biaya.
            Setahun yang lalu seharusnya Naya sudah menginjak bangku SMA/Sederajat. Melihat teman-teman sebayanya yang kini sudah kelas 2 SMA, Naya juga ingin tau rasanya memakai seragam putih abu-abu seperti teman-teman lainnya. Ia tidak ingin seperti kakaknya Nayla yang putus sekolah karena lebih mementingkan pasangan hidupnya di bandingkan dengan pendidikan yang seharusnya dimiliki.
             Libur panjang telah usai, kini tiba pendaftaran sekolah. Naya merengek meminta dirinya untuk disekolahkan seperti teman-temannya yang lain.
“Bu, saya pengen lanjut sekolah, pendaftaran di SMA sudah buka mulai kemarin” kata Naya!
“Udah ngakk usah, mending kamu cari kerja sambil nungguin dilamar sama Fajri anaknya Bu Masniah” kata Ibu Naya.
            Fajri merupakan anak dari penjual barang elektronik di pasar. Ia berumur 21 tahun seumuran dengan kakak Naya, Nayla. Ia sangat meyukai Naya dan berniat untuk menikahinya di usianya saat ini.
Naya terkaget “ Ngakk mau, pokoknya saya pengen lanjut sekolah, kayak  teman-temanku yang lainnya. Dan seharusnya ibu dukung saya karena saya ingin menggapai cita-cita jadi guru untuk bahagiain bapak sama ibu” ucap Naya dengan perasaan sedih.
“Naya ngakk mau kayak Nayla yang putus sekolah demi dinikahin ibu sama bapak” lanjut Naya.
“Ujung-ujungnya kan kamu bakalan nikah juga, dan kamu ngakk perlu repot-repot kesana kemari untuk belajar” ujar Bapak Naya.
“Pak, apa bapak tidak ingin lihat Naya sukses? Pak saya tidak ingin seperti kebanyakan orang di kampung ini yang lebih ngejar buku nikahnya daripada buku tulis dan pelajarannya. Saya ingin mengubah pola pikir orang-orang disini bahwa pendidikan itu penting dan berguna untuk Naya sendiri dan orang-orang disekitar Naya, makanya saya pengen jadi guru pak, bu…” ucap Naya dengan lemah lembut.
“Iya pak, biarkan Naya lanjut. Cukup saya saja yang menyesal putus sekolah karena pengen menikah. Dan kalau bapak dan ibu terkendala masalah biaya biar saya yang bantuin biayanya, yang penting Naya sekolah” Ikut kakak Naya membujuk.
Bapak dan Ibu Naya tidak merespon apapun perkataan Naya dan kakaknya itu.
            Rata-rata perempuan seumuran Naya sudah menikah dan punya anak. Naya tidak ingin berpikir dangkal seperti kebanyakan orang di kampungnya untuk menikah di usia muda. Menurut Naya pendidikan tetaplah nomor satu dibandingkan dengan pernikahan yang menurut kebanyakan orang menjamin kehidupan yang bahagia.
            Ke-esokan harinya, diam-diam Naya pergi mengambil formulir pendaftaran di SMA yang tidak jauh dari rumahnya. Wajah bahagia nampak dari muka Naya yang telah memegang formulir pendaftaran. Tibalah Naya dirumahnya dan disambut oleh kedua orang tuanya.
“Itu apa an ?” tanya Ibu Naya.
“Anu…mmm..formulir” jawab Naya dengan takut.
“Kamu mau lanjut? orang tua Fajri akan datang melamarmu dan kau akan menikah” ujar Ibu Naya dengan tegas.
“Kan saya sudah katakan bu kalau saya mau lanjut sekolah bukan nikah. Kalau ibu mau ada pernikahan jangan seret-seret saya, karena saya ngakk mau nikah.” Jawab Naya tetap dengan lembut.
“Pokoknya kalau kau tetap mau sekolah dan nolak lamaran si Fajri kamu angkat kaki dari rumah ini” ucap Bapak Naya dengan tegas dan mengancam.
            Namun, dengan kegigihan dan tekad yang bulat dari Naya membuatnya enggan tuk berpikir mundur. Ia tetap mengisi dan mengembalikan formulir itu dan menghiraukan ancaman dari orangtuanya dan pergi meninggalkan rumah dan tinggal bersama kakaknya.
            Tahun ajaran baru pun di mulai, Naya sudah mengalami beberapa kesulitan akhir-akhir ini untuk menghadapi masa putih abu-abunya. Untung saja ada teman Naya yang bersedia memberikan Naya seragam karena kondisi perekonomian kakaknya hanya sanggup membelikannya buku tulis. Naya tidak pernah menyesali tindakan yang di ambilnya. Kini Fajri pun sudah menikah dengan gadis lain yang dipilihkan ibunya sendiri.
            Sepulang sekolah, Naya pulang ke rumah kakaknya.
“Assalamualaikum, Naya pulang” ujar Naya selepas masuk ke rumah.
“Waalaikumsalam” jawab kakak dan orang tua Naya.
Naya kaget dengan adanya orangtuanya dirumah Nayla, karena setelah beberapa bulan ia baru berkunjung ke rumah kakaknya setelah Naya minggat dari rumah.
Naya pun mencium tangan bapak dan ibunya seraya meminta maaf.
“Maafkan saya bu, pak karena tidak mengikuti kemauan bapak dan ibu. Saya benar-benar mau sekolah, saya ingin menggapai cita-cita saya dan buktiin ke bapak sama ibu bahwa Naya bisa jadi orang yang bermanfaat dan sukses”. Ujar Naya dengan sedih.
“Bapak sama ibu juga minta maaf sama kamu, karena bapak dan ibu lebih mementingkan keinginan bapak dan ibu untuk nikahin kamu daripada keinginanmu sendiri. Bapak sama ibu benar-benar egois. Maafkan bapak dan ibu Nak..” Ucap Ibu Naya penuh tangis.
“Mari kita pulang ke rumah nak, bapak akan biayain sekolah kamu sampai selesai. Yang penting kamu tetap belajar dengan baik, jangan seperti bapak dan ibumu ini..” kata Bapak Naya.
“Iya Pak. Tapi Naya Suka disini main sama Kayla (ponakan Naya) dan lagi pula jarak sekolahku kan lebih dekat kalau dari sini. Kalau waktu libur saya baru kerumah” jawab Naya.
“Tapi kamu sudah tidak marah lagi kan ? tanya Ibu Naya.
“Ya tidaklah bu. Naya justru seneng karna ibu sama bapak sudah restuin saya untuk tetap lanjut sekolah” jawab Naya.
 “Ya udah ibu sama bapak pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi ibu atau bapak ya.” Kata Ibu Naya.
           Betapa bahagianya Naya dikunjungi dan diajak pulang oleh kedua orangtuanya. Keputusannya untuk tetap melanjutkan pendidikannya tidak sia-sia.  Kini Naya hidup rukun bersama keluarganya. Naya juga merupakan salah satu murid yang pintar dikelasnya hingga ia mendapatkan peringkat kedua dan akan mengikuti Olimpiade Matematika mewakili sekolahnya.
             Kini Naya sudah duduk di kelas 3 SMA. Tentu saja dalam menjalani dunia pendidikannya tidak ada yang mulus-mulus saja. Berbagai problematika sering muncul seiring berjalannya waktu. Hingga pada suatu hari Naya berada dalam kebimbangan.
“Kamu kenapa Naya? Kok ibu liat kamu kayak banyak beban pikiran”. Tanya Ibu Kiki guru BK yang merupakan salah satu guru yang dekat dengannya.
“Tidak kenapa-napa kok bu” jawab Naya.
“Kamu cerita sama ibu. Barangkali ibu bisa bantu kamu. Terkadang seseorang perlu membagi masalahnya dengan orang lain agar mampu mencari jalan keluar secara bersama-sama. Kata Bu Kiki dengan penuh motivasi.
“Saya sedang bimbang bu” ujar Naya.
“Bimbang kenapa?” tanya Ibu Kiki lagi.
“Ibu kenal dengan Pak Irwan guru olahraga disini kan bu. Kemarin dia nemuin saya di laboratorium. Dia bilang kalau dia menyukai saya dan berniat setelah lulus dia akan datang kerumah.” kata naya.
            Pak Irwan merupakan guru olahraga termuda di sekolah dan terbilang tampan di mata para siswi. Umurnya baru 21 tahun dan semenjak Naya kelas 2 sampai saat ini dia mengisi mata pelajaran olahraga di kelasnya hingga membuatnya tertarik dengan Naya.
“Jadi masalahnya apa ? kalau kamu juga suka sama pak Irwan kamu terima saja. Lagi pula kan dia berniat datang setelah kamu lulus.” Jawab Bu Kiki.
“Iya bu. Tapi cita-cita saya bukan untuk menikah setelah lulus. Tapi saya mau melanjutkan pendidikan saya di perguruan tinggi. Dan apa kata orang tua saya nanti kalau saya mau menikah setelah lulus sedangkan perjuangan saya lanjut SMA saja tidaklah mudah.” Ucap Naya dengan raut muka yang pusing.
“Apa kamu sudah katakana ini ke Pak Irwan ?” tanya Bu Kiki.
“Tidak bu. Saat itu pikiranku sangat kacau hingga tak berkutip apa-apa setelah mendengar perkataan Pak Irwan.” Jawab Naya.
“Saran ibu, sebaiknya kau beritahu Pak Irwan apa keinginanmu karena kamu tidak bisa mengorbankan cita-citamu demi orang lain dan mengingat perjuanganmu hingga saat ini, apalagi kamu orangnya cerdas dan berbakat.” Saran yang bijak dari Bu Kiki.
“Betul juga bu. Jangan sampai dia kerumah dan membahas ini dengan orangtuaku. Matilah saya.” Jawab Naya dengan cemas dan gelisah.
            Ke-esokan harinya Naya memberanikan dirinya bertemu dengan Pak Irwan ditemani dengan Bu Kiki karena hanya dia yang mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh Naya. Dan akhirnya setelah berbincang-bincang selama kurang lebih 1 jam, Pak Irwan akhirnya paham dan mendukung keputusan Naya yang ingin melanjutkan pendidikannya.
“Saya tidak ingin jadi benalu dalam karirmu dan lagi pula perjalananmu masih panjang dan terlalu belia untuk mengurus rumah tangga.” Kata terakhir dari Pak Irwan.
            Kini, beban pikiran Naya sudah hilang. Sekarang Ia lebih fokus dengan cita-citanya yang akan dia capai. Naya sudah memiliki target di perguruan tinggi mana ia akan mendaftarkan dirinya dan jurusan apa yang akan dia ambil yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Menurut Naya, membahagiakan orang tua adalah hal yang paling utama, dan untuk membahagiakan orangtuanya yaitu dengan menggapai cita-citanya dan membuktikan kepada orangtuanya bahwa ia mampu, dan menikah bukanlah jalan satu-satunya yang harus ditempuh seseorang agar nampak bahagia.
*Selesai*

Kenangan


BEGADANG
@SpriteLee

Senin 23 Juli 2018

Tepatnya tanggal 21-07-2018 Pukul 18.23 aku merasa malam itu adalah malam yang terindah. Bulan bersinar terang yang memancarkan cahayanya yang indah. Bintang begitu riang dengan kerlap kerlip cahayanya.
            Masing-masing sibuk dengan dunia mereka, ada yang sibuk dengan dunia maya, ada yang sibuk dengan dunia khayal, ada yang sibuk dengan dunia romansa.
            Malam itu aku sibuk dengan duniaku sendiri, yang tanpa sadar membuatku berangan bahwa dunia yang membuatku merasa hanya ada aku dan dia di dunia ini.
            Walau jarak memisahkan tapi seakan dekat disisi dengan kecanggihan teknologi buatan manusia, hingga aku dapat saling berkomunikasi di dunia maya. Saling meredam rindu yang ada dan menghadirkan rindu yang lainnya.
            Dengan lihai merangkai kata-kata, sajak demi sajak dan bait demi bait yang terangkai dengan indah “jangan pernah takut untuk menutup matamu, karena aku tidak akan pernah pergi dari penglihatanmu, setiap kamu terbangun kamu akan selalu melihatku”.
            Tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 01.15. Aku tersentak dengan bersamanya bisa membuatku lupa akan waktu yang berlalu begitu cepat.