Inginku Buku Tulis, Bukan Buku
Nikah
Karya : Camiti
Minggu, 14 Juli 2019
Naya seorang gadis cantik berumur 16 tahun yang tinggal
bersama kedua orang tuanya di sebuah perkampungan dekat kota.Ia memiliki
seorang kakak yang bernama Nayla yang kini berumur 21 tahun dan sudah bersuami.
Mereka hidup di lingkungan yang mayoritas masyarakatnya kurang berpendidikan
dan berpenghasilan rendah. Bahkan kedua orang tuanya pun putus sekolah karena
persoalan biaya.
Setahun yang lalu seharusnya Naya sudah menginjak bangku
SMA/Sederajat. Melihat teman-teman sebayanya yang kini sudah kelas 2 SMA, Naya
juga ingin tau rasanya memakai seragam putih abu-abu seperti teman-teman
lainnya. Ia tidak ingin seperti kakaknya Nayla yang putus sekolah karena lebih
mementingkan pasangan hidupnya di bandingkan dengan pendidikan yang seharusnya
dimiliki.
Libur panjang
telah usai, kini tiba pendaftaran sekolah. Naya merengek meminta dirinya untuk
disekolahkan seperti teman-temannya yang lain.
“Bu, saya pengen lanjut
sekolah, pendaftaran di SMA sudah buka mulai kemarin” kata Naya!
“Udah ngakk usah,
mending kamu cari kerja sambil nungguin dilamar sama Fajri anaknya Bu Masniah”
kata Ibu Naya.
Fajri merupakan anak dari penjual barang elektronik di
pasar. Ia berumur 21 tahun seumuran dengan kakak Naya, Nayla. Ia sangat meyukai
Naya dan berniat untuk menikahinya di usianya saat ini.
Naya terkaget “ Ngakk
mau, pokoknya saya pengen lanjut sekolah, kayak teman-temanku yang lainnya. Dan seharusnya ibu
dukung saya karena saya ingin menggapai cita-cita jadi guru untuk bahagiain
bapak sama ibu” ucap Naya dengan perasaan sedih.
“Naya ngakk mau kayak
Nayla yang putus sekolah demi dinikahin ibu sama bapak” lanjut Naya.
“Ujung-ujungnya kan
kamu bakalan nikah juga, dan kamu ngakk perlu repot-repot kesana kemari untuk
belajar” ujar Bapak Naya.
“Pak, apa bapak tidak ingin
lihat Naya sukses? Pak saya tidak ingin seperti kebanyakan orang di kampung ini
yang lebih ngejar buku nikahnya daripada buku tulis dan pelajarannya. Saya
ingin mengubah pola pikir orang-orang disini bahwa pendidikan itu penting dan
berguna untuk Naya sendiri dan orang-orang disekitar Naya, makanya saya pengen
jadi guru pak, bu…” ucap Naya dengan lemah lembut.
“Iya pak, biarkan Naya
lanjut. Cukup saya saja yang menyesal putus sekolah karena pengen menikah. Dan
kalau bapak dan ibu terkendala masalah biaya biar saya yang bantuin biayanya,
yang penting Naya sekolah” Ikut kakak Naya membujuk.
Bapak dan Ibu Naya
tidak merespon apapun perkataan Naya dan kakaknya itu.
Rata-rata perempuan seumuran Naya sudah menikah dan punya
anak. Naya tidak ingin berpikir dangkal seperti kebanyakan orang di kampungnya
untuk menikah di usia muda. Menurut Naya pendidikan tetaplah nomor satu
dibandingkan dengan pernikahan yang menurut kebanyakan orang menjamin kehidupan
yang bahagia.
Ke-esokan harinya, diam-diam Naya pergi mengambil
formulir pendaftaran di SMA yang tidak jauh dari rumahnya. Wajah bahagia nampak
dari muka Naya yang telah memegang formulir pendaftaran. Tibalah Naya
dirumahnya dan disambut oleh kedua orang tuanya.
“Itu apa an ?” tanya
Ibu Naya.
“Anu…mmm..formulir”
jawab Naya dengan takut.
“Kamu mau lanjut? orang
tua Fajri akan datang melamarmu dan kau akan menikah” ujar Ibu Naya dengan
tegas.
“Kan saya sudah katakan
bu kalau saya mau lanjut sekolah bukan nikah. Kalau ibu mau ada pernikahan
jangan seret-seret saya, karena saya ngakk mau nikah.” Jawab Naya tetap dengan
lembut.
“Pokoknya kalau kau
tetap mau sekolah dan nolak lamaran si Fajri kamu angkat kaki dari rumah ini”
ucap Bapak Naya dengan tegas dan mengancam.
Namun, dengan kegigihan dan tekad yang bulat dari Naya
membuatnya enggan tuk berpikir mundur. Ia tetap mengisi dan mengembalikan
formulir itu dan menghiraukan ancaman dari orangtuanya dan pergi meninggalkan
rumah dan tinggal bersama kakaknya.
Tahun ajaran baru pun di mulai, Naya sudah mengalami
beberapa kesulitan akhir-akhir ini untuk menghadapi masa putih abu-abunya.
Untung saja ada teman Naya yang bersedia memberikan Naya seragam karena kondisi
perekonomian kakaknya hanya sanggup membelikannya buku tulis. Naya tidak pernah
menyesali tindakan yang di ambilnya. Kini Fajri pun sudah menikah dengan gadis
lain yang dipilihkan ibunya sendiri.
Sepulang sekolah, Naya pulang ke rumah kakaknya.
“Assalamualaikum, Naya
pulang” ujar Naya selepas masuk ke rumah.
“Waalaikumsalam” jawab
kakak dan orang tua Naya.
Naya kaget dengan
adanya orangtuanya dirumah Nayla, karena setelah beberapa bulan ia baru
berkunjung ke rumah kakaknya setelah Naya minggat dari rumah.
Naya pun mencium tangan
bapak dan ibunya seraya meminta maaf.
“Maafkan saya bu, pak
karena tidak mengikuti kemauan bapak dan ibu. Saya benar-benar mau sekolah,
saya ingin menggapai cita-cita saya dan buktiin ke bapak sama ibu bahwa Naya
bisa jadi orang yang bermanfaat dan sukses”. Ujar Naya dengan sedih.
“Bapak sama ibu juga
minta maaf sama kamu, karena bapak dan ibu lebih mementingkan keinginan bapak
dan ibu untuk nikahin kamu daripada keinginanmu sendiri. Bapak sama ibu
benar-benar egois. Maafkan bapak dan ibu Nak..” Ucap Ibu Naya penuh tangis.
“Mari kita pulang ke
rumah nak, bapak akan biayain sekolah kamu sampai selesai. Yang penting kamu tetap
belajar dengan baik, jangan seperti bapak dan ibumu ini..” kata Bapak Naya.
“Iya Pak. Tapi Naya
Suka disini main sama Kayla (ponakan Naya) dan lagi pula jarak sekolahku kan
lebih dekat kalau dari sini. Kalau waktu libur saya baru kerumah” jawab Naya.
“Tapi kamu sudah tidak
marah lagi kan ? tanya Ibu Naya.
“Ya tidaklah bu. Naya
justru seneng karna ibu sama bapak sudah restuin saya untuk tetap lanjut
sekolah” jawab Naya.
“Ya udah ibu sama bapak pulang dulu. Kalau ada
apa-apa hubungi ibu atau bapak ya.” Kata Ibu Naya.
Betapa bahagianya Naya dikunjungi dan diajak pulang oleh
kedua orangtuanya. Keputusannya untuk tetap melanjutkan pendidikannya tidak
sia-sia. Kini Naya hidup rukun bersama
keluarganya. Naya juga merupakan salah satu murid yang pintar dikelasnya hingga
ia mendapatkan peringkat kedua dan akan mengikuti Olimpiade Matematika mewakili
sekolahnya.
Kini Naya sudah
duduk di kelas 3 SMA. Tentu saja dalam menjalani dunia pendidikannya tidak ada
yang mulus-mulus saja. Berbagai problematika sering muncul seiring berjalannya
waktu. Hingga pada suatu hari Naya berada dalam kebimbangan.
“Kamu kenapa Naya? Kok
ibu liat kamu kayak banyak beban pikiran”. Tanya Ibu Kiki guru BK yang
merupakan salah satu guru yang dekat dengannya.
“Tidak kenapa-napa kok
bu” jawab Naya.
“Kamu cerita sama ibu.
Barangkali ibu bisa bantu kamu. Terkadang seseorang perlu membagi masalahnya
dengan orang lain agar mampu mencari jalan keluar secara bersama-sama. Kata Bu
Kiki dengan penuh motivasi.
“Saya sedang bimbang bu”
ujar Naya.
“Bimbang kenapa?” tanya
Ibu Kiki lagi.
“Ibu kenal dengan Pak
Irwan guru olahraga disini kan bu. Kemarin dia nemuin saya di laboratorium. Dia
bilang kalau dia menyukai saya dan berniat setelah lulus dia akan datang
kerumah.” kata naya.
Pak Irwan merupakan guru olahraga termuda di sekolah dan
terbilang tampan di mata para siswi. Umurnya baru 21 tahun dan semenjak Naya
kelas 2 sampai saat ini dia mengisi mata pelajaran olahraga di kelasnya hingga
membuatnya tertarik dengan Naya.
“Jadi masalahnya apa ?
kalau kamu juga suka sama pak Irwan kamu terima saja. Lagi pula kan dia berniat
datang setelah kamu lulus.” Jawab Bu Kiki.
“Iya bu. Tapi cita-cita
saya bukan untuk menikah setelah lulus. Tapi saya mau melanjutkan pendidikan
saya di perguruan tinggi. Dan apa kata orang tua saya nanti kalau saya mau
menikah setelah lulus sedangkan perjuangan saya lanjut SMA saja tidaklah
mudah.” Ucap Naya dengan raut muka yang pusing.
“Apa kamu sudah
katakana ini ke Pak Irwan ?” tanya Bu Kiki.
“Tidak bu. Saat itu
pikiranku sangat kacau hingga tak berkutip apa-apa setelah mendengar perkataan
Pak Irwan.” Jawab Naya.
“Saran ibu, sebaiknya
kau beritahu Pak Irwan apa keinginanmu karena kamu tidak bisa mengorbankan
cita-citamu demi orang lain dan mengingat perjuanganmu hingga saat ini, apalagi
kamu orangnya cerdas dan berbakat.” Saran yang bijak dari Bu Kiki.
“Betul juga bu. Jangan
sampai dia kerumah dan membahas ini dengan orangtuaku. Matilah saya.” Jawab
Naya dengan cemas dan gelisah.
Ke-esokan harinya Naya memberanikan dirinya bertemu
dengan Pak Irwan ditemani dengan Bu Kiki karena hanya dia yang mengetahui
permasalahan yang dihadapi oleh Naya. Dan akhirnya setelah berbincang-bincang
selama kurang lebih 1 jam, Pak Irwan akhirnya paham dan mendukung keputusan
Naya yang ingin melanjutkan pendidikannya.
“Saya tidak ingin jadi
benalu dalam karirmu dan lagi pula perjalananmu masih panjang dan terlalu belia
untuk mengurus rumah tangga.” Kata terakhir dari Pak Irwan.
Kini, beban pikiran Naya sudah hilang. Sekarang Ia lebih
fokus dengan cita-citanya yang akan dia capai. Naya sudah memiliki target di
perguruan tinggi mana ia akan mendaftarkan dirinya dan jurusan apa yang akan
dia ambil yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Menurut Naya, membahagiakan
orang tua adalah hal yang paling utama, dan untuk membahagiakan orangtuanya
yaitu dengan menggapai cita-citanya dan membuktikan kepada orangtuanya bahwa ia
mampu, dan menikah bukanlah jalan satu-satunya yang harus ditempuh seseorang
agar nampak bahagia.
*Selesai*
Subhanallah Jadi Termotivasi Setelah membacanya.
BalasHapus