Selasa, 25 Februari 2020

Cerpen Pendidikan

Inginku Buku Tulis, Bukan Buku Nikah
Karya : Camiti
Minggu, 14 Juli 2019

            Naya seorang gadis cantik berumur 16 tahun yang tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah perkampungan dekat kota.Ia memiliki seorang kakak yang bernama Nayla yang kini berumur 21 tahun dan sudah bersuami. Mereka hidup di lingkungan yang mayoritas masyarakatnya kurang berpendidikan dan berpenghasilan rendah. Bahkan kedua orang tuanya pun putus sekolah karena persoalan biaya.
            Setahun yang lalu seharusnya Naya sudah menginjak bangku SMA/Sederajat. Melihat teman-teman sebayanya yang kini sudah kelas 2 SMA, Naya juga ingin tau rasanya memakai seragam putih abu-abu seperti teman-teman lainnya. Ia tidak ingin seperti kakaknya Nayla yang putus sekolah karena lebih mementingkan pasangan hidupnya di bandingkan dengan pendidikan yang seharusnya dimiliki.
             Libur panjang telah usai, kini tiba pendaftaran sekolah. Naya merengek meminta dirinya untuk disekolahkan seperti teman-temannya yang lain.
“Bu, saya pengen lanjut sekolah, pendaftaran di SMA sudah buka mulai kemarin” kata Naya!
“Udah ngakk usah, mending kamu cari kerja sambil nungguin dilamar sama Fajri anaknya Bu Masniah” kata Ibu Naya.
            Fajri merupakan anak dari penjual barang elektronik di pasar. Ia berumur 21 tahun seumuran dengan kakak Naya, Nayla. Ia sangat meyukai Naya dan berniat untuk menikahinya di usianya saat ini.
Naya terkaget “ Ngakk mau, pokoknya saya pengen lanjut sekolah, kayak  teman-temanku yang lainnya. Dan seharusnya ibu dukung saya karena saya ingin menggapai cita-cita jadi guru untuk bahagiain bapak sama ibu” ucap Naya dengan perasaan sedih.
“Naya ngakk mau kayak Nayla yang putus sekolah demi dinikahin ibu sama bapak” lanjut Naya.
“Ujung-ujungnya kan kamu bakalan nikah juga, dan kamu ngakk perlu repot-repot kesana kemari untuk belajar” ujar Bapak Naya.
“Pak, apa bapak tidak ingin lihat Naya sukses? Pak saya tidak ingin seperti kebanyakan orang di kampung ini yang lebih ngejar buku nikahnya daripada buku tulis dan pelajarannya. Saya ingin mengubah pola pikir orang-orang disini bahwa pendidikan itu penting dan berguna untuk Naya sendiri dan orang-orang disekitar Naya, makanya saya pengen jadi guru pak, bu…” ucap Naya dengan lemah lembut.
“Iya pak, biarkan Naya lanjut. Cukup saya saja yang menyesal putus sekolah karena pengen menikah. Dan kalau bapak dan ibu terkendala masalah biaya biar saya yang bantuin biayanya, yang penting Naya sekolah” Ikut kakak Naya membujuk.
Bapak dan Ibu Naya tidak merespon apapun perkataan Naya dan kakaknya itu.
            Rata-rata perempuan seumuran Naya sudah menikah dan punya anak. Naya tidak ingin berpikir dangkal seperti kebanyakan orang di kampungnya untuk menikah di usia muda. Menurut Naya pendidikan tetaplah nomor satu dibandingkan dengan pernikahan yang menurut kebanyakan orang menjamin kehidupan yang bahagia.
            Ke-esokan harinya, diam-diam Naya pergi mengambil formulir pendaftaran di SMA yang tidak jauh dari rumahnya. Wajah bahagia nampak dari muka Naya yang telah memegang formulir pendaftaran. Tibalah Naya dirumahnya dan disambut oleh kedua orang tuanya.
“Itu apa an ?” tanya Ibu Naya.
“Anu…mmm..formulir” jawab Naya dengan takut.
“Kamu mau lanjut? orang tua Fajri akan datang melamarmu dan kau akan menikah” ujar Ibu Naya dengan tegas.
“Kan saya sudah katakan bu kalau saya mau lanjut sekolah bukan nikah. Kalau ibu mau ada pernikahan jangan seret-seret saya, karena saya ngakk mau nikah.” Jawab Naya tetap dengan lembut.
“Pokoknya kalau kau tetap mau sekolah dan nolak lamaran si Fajri kamu angkat kaki dari rumah ini” ucap Bapak Naya dengan tegas dan mengancam.
            Namun, dengan kegigihan dan tekad yang bulat dari Naya membuatnya enggan tuk berpikir mundur. Ia tetap mengisi dan mengembalikan formulir itu dan menghiraukan ancaman dari orangtuanya dan pergi meninggalkan rumah dan tinggal bersama kakaknya.
            Tahun ajaran baru pun di mulai, Naya sudah mengalami beberapa kesulitan akhir-akhir ini untuk menghadapi masa putih abu-abunya. Untung saja ada teman Naya yang bersedia memberikan Naya seragam karena kondisi perekonomian kakaknya hanya sanggup membelikannya buku tulis. Naya tidak pernah menyesali tindakan yang di ambilnya. Kini Fajri pun sudah menikah dengan gadis lain yang dipilihkan ibunya sendiri.
            Sepulang sekolah, Naya pulang ke rumah kakaknya.
“Assalamualaikum, Naya pulang” ujar Naya selepas masuk ke rumah.
“Waalaikumsalam” jawab kakak dan orang tua Naya.
Naya kaget dengan adanya orangtuanya dirumah Nayla, karena setelah beberapa bulan ia baru berkunjung ke rumah kakaknya setelah Naya minggat dari rumah.
Naya pun mencium tangan bapak dan ibunya seraya meminta maaf.
“Maafkan saya bu, pak karena tidak mengikuti kemauan bapak dan ibu. Saya benar-benar mau sekolah, saya ingin menggapai cita-cita saya dan buktiin ke bapak sama ibu bahwa Naya bisa jadi orang yang bermanfaat dan sukses”. Ujar Naya dengan sedih.
“Bapak sama ibu juga minta maaf sama kamu, karena bapak dan ibu lebih mementingkan keinginan bapak dan ibu untuk nikahin kamu daripada keinginanmu sendiri. Bapak sama ibu benar-benar egois. Maafkan bapak dan ibu Nak..” Ucap Ibu Naya penuh tangis.
“Mari kita pulang ke rumah nak, bapak akan biayain sekolah kamu sampai selesai. Yang penting kamu tetap belajar dengan baik, jangan seperti bapak dan ibumu ini..” kata Bapak Naya.
“Iya Pak. Tapi Naya Suka disini main sama Kayla (ponakan Naya) dan lagi pula jarak sekolahku kan lebih dekat kalau dari sini. Kalau waktu libur saya baru kerumah” jawab Naya.
“Tapi kamu sudah tidak marah lagi kan ? tanya Ibu Naya.
“Ya tidaklah bu. Naya justru seneng karna ibu sama bapak sudah restuin saya untuk tetap lanjut sekolah” jawab Naya.
 “Ya udah ibu sama bapak pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi ibu atau bapak ya.” Kata Ibu Naya.
           Betapa bahagianya Naya dikunjungi dan diajak pulang oleh kedua orangtuanya. Keputusannya untuk tetap melanjutkan pendidikannya tidak sia-sia.  Kini Naya hidup rukun bersama keluarganya. Naya juga merupakan salah satu murid yang pintar dikelasnya hingga ia mendapatkan peringkat kedua dan akan mengikuti Olimpiade Matematika mewakili sekolahnya.
             Kini Naya sudah duduk di kelas 3 SMA. Tentu saja dalam menjalani dunia pendidikannya tidak ada yang mulus-mulus saja. Berbagai problematika sering muncul seiring berjalannya waktu. Hingga pada suatu hari Naya berada dalam kebimbangan.
“Kamu kenapa Naya? Kok ibu liat kamu kayak banyak beban pikiran”. Tanya Ibu Kiki guru BK yang merupakan salah satu guru yang dekat dengannya.
“Tidak kenapa-napa kok bu” jawab Naya.
“Kamu cerita sama ibu. Barangkali ibu bisa bantu kamu. Terkadang seseorang perlu membagi masalahnya dengan orang lain agar mampu mencari jalan keluar secara bersama-sama. Kata Bu Kiki dengan penuh motivasi.
“Saya sedang bimbang bu” ujar Naya.
“Bimbang kenapa?” tanya Ibu Kiki lagi.
“Ibu kenal dengan Pak Irwan guru olahraga disini kan bu. Kemarin dia nemuin saya di laboratorium. Dia bilang kalau dia menyukai saya dan berniat setelah lulus dia akan datang kerumah.” kata naya.
            Pak Irwan merupakan guru olahraga termuda di sekolah dan terbilang tampan di mata para siswi. Umurnya baru 21 tahun dan semenjak Naya kelas 2 sampai saat ini dia mengisi mata pelajaran olahraga di kelasnya hingga membuatnya tertarik dengan Naya.
“Jadi masalahnya apa ? kalau kamu juga suka sama pak Irwan kamu terima saja. Lagi pula kan dia berniat datang setelah kamu lulus.” Jawab Bu Kiki.
“Iya bu. Tapi cita-cita saya bukan untuk menikah setelah lulus. Tapi saya mau melanjutkan pendidikan saya di perguruan tinggi. Dan apa kata orang tua saya nanti kalau saya mau menikah setelah lulus sedangkan perjuangan saya lanjut SMA saja tidaklah mudah.” Ucap Naya dengan raut muka yang pusing.
“Apa kamu sudah katakana ini ke Pak Irwan ?” tanya Bu Kiki.
“Tidak bu. Saat itu pikiranku sangat kacau hingga tak berkutip apa-apa setelah mendengar perkataan Pak Irwan.” Jawab Naya.
“Saran ibu, sebaiknya kau beritahu Pak Irwan apa keinginanmu karena kamu tidak bisa mengorbankan cita-citamu demi orang lain dan mengingat perjuanganmu hingga saat ini, apalagi kamu orangnya cerdas dan berbakat.” Saran yang bijak dari Bu Kiki.
“Betul juga bu. Jangan sampai dia kerumah dan membahas ini dengan orangtuaku. Matilah saya.” Jawab Naya dengan cemas dan gelisah.
            Ke-esokan harinya Naya memberanikan dirinya bertemu dengan Pak Irwan ditemani dengan Bu Kiki karena hanya dia yang mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh Naya. Dan akhirnya setelah berbincang-bincang selama kurang lebih 1 jam, Pak Irwan akhirnya paham dan mendukung keputusan Naya yang ingin melanjutkan pendidikannya.
“Saya tidak ingin jadi benalu dalam karirmu dan lagi pula perjalananmu masih panjang dan terlalu belia untuk mengurus rumah tangga.” Kata terakhir dari Pak Irwan.
            Kini, beban pikiran Naya sudah hilang. Sekarang Ia lebih fokus dengan cita-citanya yang akan dia capai. Naya sudah memiliki target di perguruan tinggi mana ia akan mendaftarkan dirinya dan jurusan apa yang akan dia ambil yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Menurut Naya, membahagiakan orang tua adalah hal yang paling utama, dan untuk membahagiakan orangtuanya yaitu dengan menggapai cita-citanya dan membuktikan kepada orangtuanya bahwa ia mampu, dan menikah bukanlah jalan satu-satunya yang harus ditempuh seseorang agar nampak bahagia.
*Selesai*

1 komentar: