v Analisis Perbedaan Berbahasa
Pedagang Pasar
Pada tugas final ini saya telah
melakukan observasi dengan terjung langsung ke Pasar Tradisional Bantaeng dan
menganalisis bahasa pedagang yang ada dipasar tersebut. Adapun bahasa pedagang
yang saya analisis yaitu bahasa pedagang buah dan pedagang ikan.
A. Analisis Pedagang Buah
Penelitian ini saya lakukan di Pasar
Tradisional Bantaeng yang menjadi pusat perbelanjaan masyarakat Bantaeng itu
sendiri. Adapun bahasa yang kerap kali di lontarkan oleh para pedagang yang ada
di Bantaeng khususnya pada pedagang buah-buahan tentu saja berbeda satu sama
lain, tergantung siapa yang membelinya.
1.
Berdasarkan asal daerah atau wilayahnya
Pedagang: Buah-buahanna ibu. Lemonna,
salakna tanning ngase tangania kacci-kaccina. Ki cobami loro Ibu.
(Buahnya
ibu. Jeruk, salak semuanya manis tidak ada yang asam. Silahkan di cicipi
terlebih dahulu)
Pembeli 1 : Tassikura mi injo ?
(Berapa
harganya itu?)
Pembeli 2 : Berapa 1 liter ?
Pedagang : Sampulo sa’buji silitere.
(Hanya
sepuluh ribu satu liter)
Pembeli
1 : Kisarema siliterek salak na lemo.
(Bungkuskan
saya satu liter salak dan jeruk)
Pembeli 2 : Satu liter Jeruk.
Dari contoh percakapan diatas, cara
berbahasa pedagang buah diatas ia menawarkan dan menarik pembeli dengan cara
memberi kesempatan pembeli untuk mencicipi dagangannya tersebut. Jika di
analisis dari cara berbahasa pembeli, pembeli
1 berasal dari daerah perkampungan yang mayoritasnya menggunakan bahasa
konjo sedangkan pembeli 2 berasal
dari daerah perkotaan namun mengerti bahasa yang di ucapkan oleh pedagang.
2.
Berdasarkan Jenis Kelamin
Pembeli 1 : Bu, berapa semangkata 1 buah
?
Pedagang : Tujuh ribu ibu.
Pembeli 2 : Salakta mo nakke.
(saya salak saja)
Pedagang : Sikura litere Pak ?
(Berapa liter Pak ?)
Dari Percakapan diatas, berdasarkan jenis
kelamin dimana pedagang yang saya amati melayani 2 pembeli sekaligus diamana pembeli 1 mereupakan perempuan sedangkan
pembeli 2 merupakan seorang
laki-laki. Perbedaan tutur bahasa yang nampak dari percakapan tersebut terletak
pada sapaan yang di lontarkan oleh pedagang kepada para pembeli yaitu pada
sapaan bu dan pak.
B. Analisis Pedagang Ikan
Penelitian
yang kedua juga saya lakukan di Pasar Tradisional Bantaeng. Ketika berada
dikumpulan para penjual ikan para penjual berlomba lomba menawarkan ikannya
kepada saya.
Pedagang
1 : Layangna-layangna ibu, sampulo lima sa’bu sigompo.
(
Layangnya ibu, lima belas ribu satu segumpal)
Pedagang
2 : Juku layangna ibu, anu beru inja.
(Ikan
layangnya ibu, masih segar)
Pedagang
3 : Juku layangna bu, ki allemi sigompo tambanna tallung kayu.
(Ikan
layangnya bu, ambil satu gumpalan dapat tambahan tiga ekor lagi)
Berdasarkan
contoh diatas, jelas terlihat perbedaan bahasa yang di lontarkan pedagang ikan
yang satu dengan pedagang ikan yang lainnya. Pada pedagan 1, ia menawarkan ikannya berdasarkan harganya. Pada pedagang 2, ia menawarkan ikannya
berdasarkan kualitas kesegarannya. Sedangakan pada pedagang 3, ia menawarkan ikannya berdasarkan bonus atau tambahan
yang akan di berikan kepada pembeli.
Dari
hasil analisis yang telah saya lakukan dari kedua pedagang tersebut, secara
garis besar dapat disimpulkan bahwa bahasa yang di pakai oleh para pedagang dan
orang-orang yang terlibat dalam aktivitas pasar yaitu menggunakan bahasa daerah
konjo. Adapun cara para pedagang dalam menawarkan barang jualannya dengan
berbagai bentuk, ada yang menawarkan berdasarkan rasa, kualitas dan jumlahnya
dengan tujuan mempengaruhi para pembeli agar tertarik dengan barang dagangan
yag ditawarkan.
*Selesai*
Ahad, 14 Juli 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar