Senin, 13 April 2020

Analisis Perbedaan Berbahasa Pedagang di Pasar


v Analisis Perbedaan Berbahasa Pedagang Pasar
         Pada tugas final ini saya telah melakukan observasi dengan terjung langsung ke Pasar Tradisional Bantaeng dan menganalisis bahasa pedagang yang ada dipasar tersebut. Adapun bahasa pedagang yang saya analisis yaitu bahasa pedagang buah dan pedagang ikan.
 A. Analisis Pedagang Buah
Penelitian ini saya lakukan di Pasar Tradisional Bantaeng yang menjadi pusat perbelanjaan masyarakat Bantaeng itu sendiri. Adapun bahasa yang kerap kali di lontarkan oleh para pedagang yang ada di Bantaeng khususnya pada pedagang buah-buahan tentu saja berbeda satu sama lain, tergantung siapa yang membelinya.
1. Berdasarkan asal daerah atau wilayahnya
Pedagang: Buah-buahanna ibu. Lemonna, salakna tanning ngase tangania kacci-kaccina. Ki cobami loro Ibu.
                   (Buahnya ibu. Jeruk, salak semuanya manis tidak ada yang asam. Silahkan di cicipi terlebih dahulu)
Pembeli 1 :  Tassikura mi injo ?
                   (Berapa harganya itu?)
Pembeli 2  : Berapa 1 liter ?
Pedagang : Sampulo sa’buji silitere.
                   (Hanya sepuluh ribu satu liter)
Pembeli  1 : Kisarema siliterek salak na lemo.
                   (Bungkuskan saya satu liter salak dan jeruk)
Pembeli 2 : Satu liter Jeruk.
Dari contoh percakapan diatas, cara berbahasa pedagang buah diatas ia menawarkan dan menarik pembeli dengan cara memberi kesempatan pembeli untuk mencicipi dagangannya tersebut. Jika di analisis dari cara berbahasa pembeli, pembeli 1 berasal dari daerah perkampungan yang mayoritasnya menggunakan bahasa konjo sedangkan pembeli 2 berasal dari daerah perkotaan namun mengerti bahasa yang di ucapkan oleh pedagang.
2. Berdasarkan Jenis Kelamin
       Pembeli 1 : Bu, berapa semangkata 1 buah ?
       Pedagang : Tujuh ribu ibu.
       Pembeli 2 : Salakta mo nakke.
                          (saya salak saja)
       Pedagang : Sikura litere Pak ?
                          (Berapa liter Pak ?)
       Dari Percakapan diatas, berdasarkan jenis kelamin dimana pedagang yang saya amati melayani 2 pembeli sekaligus diamana pembeli 1 mereupakan perempuan sedangkan pembeli 2 merupakan seorang laki-laki. Perbedaan tutur bahasa yang nampak dari percakapan tersebut terletak pada sapaan yang di lontarkan oleh pedagang kepada para pembeli yaitu pada sapaan bu dan pak.
 B. Analisis Pedagang Ikan
              Penelitian yang kedua juga saya lakukan di Pasar Tradisional Bantaeng. Ketika berada dikumpulan para penjual ikan para penjual berlomba lomba menawarkan ikannya kepada saya.
              Pedagang 1 : Layangna-layangna ibu, sampulo lima sa’bu sigompo.
                                    ( Layangnya ibu, lima belas ribu satu segumpal)
              Pedagang 2 : Juku layangna ibu, anu beru inja.
                                    (Ikan layangnya ibu, masih segar)
              Pedagang 3 : Juku layangna bu, ki allemi sigompo tambanna tallung kayu.
                                    (Ikan layangnya bu, ambil satu gumpalan dapat tambahan tiga ekor                                       lagi)
              Berdasarkan contoh diatas, jelas terlihat perbedaan bahasa yang di lontarkan pedagang ikan yang satu dengan pedagang ikan yang lainnya. Pada pedagan 1, ia menawarkan ikannya berdasarkan harganya. Pada pedagang 2, ia menawarkan ikannya berdasarkan kualitas kesegarannya. Sedangakan pada pedagang 3, ia menawarkan ikannya berdasarkan bonus atau tambahan yang akan di berikan kepada pembeli.
              Dari hasil analisis yang telah saya lakukan dari kedua pedagang tersebut, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa bahasa yang di pakai oleh para pedagang dan orang-orang yang terlibat dalam aktivitas pasar yaitu menggunakan bahasa daerah konjo. Adapun cara para pedagang dalam menawarkan barang jualannya dengan berbagai bentuk, ada yang menawarkan berdasarkan rasa, kualitas dan jumlahnya dengan tujuan mempengaruhi para pembeli agar tertarik dengan barang dagangan yag ditawarkan.
*Selesai*
Ahad, 14 Juli 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar